Source: stocksnap. Image diatas atas permintaan Jasmine — karena saat tulisan ini dibuat dia ada didekat saya dan minta gambar ini untuk dijadikan featured image walaupun tidak ada hubungan dengan isi tulisan. What a father could do when his little princess asked to? :)

Business Plan & Financial Forecasting

Mr.Sahputra
6 min readNov 2, 2017

Kata orang-orang klo mau punya startup harus bisa urusin semua sendirian. Titel CEO bukan lagi untuk keren-kerenan layaknya titel di perusahaan-perusahaan gede, kalau di startup CEO artinya benar-benar Chief Everything Officer. Semua harus bisa dikerjain sendiri mulai dari A sampe Z.

Baru empat bulan ini total menceburkan diri langsung untuk membangun startup impian sebagai wadah eksekusi ide-ide saya. Feel-nya rada-rada mirip dengan saat pertama kali menceburkan diri ke dunia freelance overseas tahun 2007 silam, mulai dari perasaan takut gagal, belajar mati-matian setiap hari agar bisa survive, hingga secara perlahan menikmati beberapa bagian dari prosesi tersebut (bertemu orang-orang baru, memahami hal-hal baru, dsb).

Pada tulisan kali ini saya ingin coba berbagi pengalaman membuat business plan (perencanaan bisnis) dan financial forecasting (budgetting) sebuah startup. Walaupun saya belum bisa dikategorikan sukses namun mudah-mudahan pengalaman kecil ini bisa membantu para founder lain yang sedang bingung membuat dokumen serupa.

Business Plan

Dokumen business plan umumnya diminta oleh pihak investor yang ingin mendanai proyek startup kita. Ekspektasinya seperti apa itu tergantung masing-masing pihak yang akan invest. Misalnya, ada yang perlu dokumen perencanaan detail dalam format lengkap, namun ada juga yang cukup dalam format summary aja.

Terlepas dari permintaan dokumen semacam itu oleh investor, menurut saya dokumen business plan mutlak dibutuhkan. Kenapa? Karena dengan membuat dokumen business plan secara tidak langsung kita akan memetakan bentuk startup tersebut, dan akan ada perencanaan yang jelas mengenai langkah-langkah seperti apa untuk eksekusinya. Intinya, proyek startup kita tidak akan menjadi proyek mengawang-awang tidak jelas.

Saya menemukan materi yang bagus di lynda.com dalam hal pembuatan business plan. Judulnya “Creating a Business Plan”. Isinya sangat intuitive dan tidak bertele-tele.

Creating Business Plan Course from Lynda.com

Trainer pada course tersebut memberikan contoh business plan perusahaan miliknya berikut tambahan referensi tata cara pembuatan business plan dari universitas leeds Amerika. Dokumen dari universitas leeds tersebut sangat detail. Jadi saya sarankan kepada startup founder yang hendak membuat dokumen business plan agar setidaknya membaca guidelines dari universitas tersebut. Selain tata cara pembuatan business plan ada juga tata cara untuk melakukan feasibility study.

Berikut penampakan dokumen-nya untuk pembuatan business plan.

Saya menghabiskan waktu berhari-hari (sekitar 2 minggu, hampir 30 halaman) untuk menyelesaikan business plan startup Curphoo, but its all worth it. Hasilnya masih jauh dari sempurna. Namun banyak hal menjadi jauh lebih jelas dengan sendirinya setelah proses pembuatan dokumen tersebut. Penjabaran produk dan servis apa saja yang akan dibuat, bagaimana cara memonetisasi produk tersebut, bagaimana strategi untuk marketing, target pasar seperti apa yang akan dibidik, tim manajemen seperti apa yang akan dibentuk, filosofi dan kultur seperti apa yang akan diterapkan dalam perusahaan, strategi seperti apa untuk pembentukan tim awal yang tentunya penting karena tim awal ini adalah cikal bakal penentu bagaimana bentuk produk serta servis awal perusahaan, dan tentunya yang tidak kalah penting adalah perencanaan budget atau finansial perusahaan seperti masalah gaji, benefit, kompensasi, dsb.

Contoh potongan dari bagian Product and Services startup

Financial Forecast

Financial forecasting adalah hal lain yang dibutuhkan ketika mengajukan proposal funding startup. Apabila business plan berisi gambaran perencanaan mulai dari visi, rencana operasional, hingga exit strategy, maka financial forecasting adalah dasar perhitungan berapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk merealisasikan business plan tersebut dan yang tidak kalah penting adalah berapa besar revenue yang akan dihasilkan bisnis tersebut. Biasanya investor akan minta financial forecasting untuk 2–3 tahun kedepan.

“Lho, tapi kan bisnisnya belum jalan, bagaimana caranya meramalkan proyeksi keuntungan apalagi sampai 2–3 tahun kedepan?”. Banyak pihak menyebutkan bahwa financial forecasting tidak harus seratus persen tepat. Tentu saja akan banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi masalah pengeluaran dan pendapatan, namun melalui financial forecasting ini investor ingin melihat seberapa jauh atau seberapa dalam seorang founder memahami bisnis yang hendak dirintisnya.

Setiap orang bisa saja memiliki visi setinggi langit, bisa berceloteh panjang lebar bagaimana eksekusinya, namun namanya bisnis tetap saja kembali pada masalah perhitungan untung / rugi. Apalagi jika pakai pendanaan dari investor, investor ingin melihat apakah bisnis yang di investasikan oleh mereka akan menguntungkan atau tidak. Sehebat apapun ide apabila pada ujungnya tidak mampu memberikan nilai tambah terutama dalam hal finansial maka investor akan sulit mengucurkan dana pada startup tersebut. Founder startup harus mampu ‘memonetisasi’ ide-idenya, terkecuali startup tersebut memang sejak awal bertujuan untuk non-profit.

Ada cukup banyak model untuk financial plan, salah satunya bisa dilihat model dari Christoph Janz pada link berikut ini.

Model tersebut bisa digunakan untuk startup tipe SaaS (Software As A Service). Ada beberapa seni yang wajib dimiliki oleh para founder startup dalam membuat financial plan terkait perhitungan bisnisnya. Itu sebabnya sering kita lihat founder startup umumnya memiliki co-founder yang paham tentang bisnis (mis: sekolah nya jurusan bisnis, ataupun pernah bekerja di perusahaan konsultan besar seperti BCG, McKinsey, dsb).

Seperti apa seninya? Misalnya, proyeksi pendanaan suatu startup untuk 1 tahun pertama. Dalam masa tersebut butuh mulai dari software developer, software architect, devops engineer, backend engineer, sales, marketing, dsb. Apakah semua harus direcruit dari bulan pertama setelah startup mendapatkan funding? Tentu tidak. Bisa jadi selama 2 bulan pertama hanya butuh software developer, bulan ketiga mulai butuh seorang devops engineer untuk deployment. Bulan ke-4 mulai butuh QA engineer terutama untuk assessment security produk yang dikembangkan. Bulan ke-5 mulai melakukan beta testing, butuh marketing dan sales untuk menentukan strategi delivery produk tersebut ke target customer. Bulan ke-7 mulai live di production sehingga butuh tambahan software developer untuk urusin patch bug, bulan ke-10 mulai butuh backend engineer untuk fokus di masalah backend. Dan seterusnya.

Apabila semua direcruit dari bulan pertama maka beban costnya bisa membengkak sementara bulan-bulan pertama bisa jadi sales dan marketing belum dibutuhkan sehingga pengeluaran cost untuk mereka menjadi tidak efisien. Untuk apa recruit marketing dan sales sementara produknya belum jadi?

Contoh dokumen financial forecast

Dokumen financial plan tersebut merupakan wadah tempat menuangkan isi business plan kedalam bentuk angka-angka finansial. Walaupun isinya tidak mungkin tepat 100% dengan eksekusi nantinya, namun investor yang berpengalaman akan mampu melihat sejauh mana sang founder memahami startup bentukan-nya, dan bagaimana kemampuan mereka ketika mengelola perusahaan kelak. Dokumen financial forecasting / plan tersebut nantinya akan diintegrasikan pada dokumen business plan, sehingga menjadi satu kesatuan dokumen untuk diserahkan kepada calon investor.

Apakah itu berarti sebuah startup wajib butuh ahli finansial? Saya rasa tidak juga. Jaman sekarang adalah era dimana informasi berserakan dimana-mana. Tinggal bagaimana cara kita ‘ngoprek’-nya saja. Namun tentunya pengalaman memiliki peran yang cukup signifikan.

Ketika mempelajari sisi bisnis startup saya sendiri belum berpengalaman dan masih harus terus belajar hingga saat ini, namun saya bisa bilang pengalaman bekerja selama ini terutama di perusahaan multinasional diluar Indonesia sangat banyak membantu. Banyak hal menjadi lebih mudah untuk dipahami karena sudah melihat bisnis corporate sebelumnya. Jadi untuk para founder-founder muda, saya sarankan untuk berkolaborasi dengan pihak-pihak yang sudah memiliki pengalaman dalam hal bisnis ketika hendak membangun startup. Bisa jadi dengan me-rekruit ahli finansial sebagai CFO, menempatkan orang-orang berpengalaman pada corporate untuk duduk di perusahaan startup-nya sebagai advisor, ataupun menggunakan fasilitas dukungan dari VC (apabila menggunakan VC) dimana mereka dapat memberikan dukungan ahli finansial sementara para founder bisa fokus membangun produk.

Begitu saja dulu. Nanti apabila ada pengalaman berharga lain yang sekiranya bisa di-share akan saya coba ulas disini. Semoga saja tulisan ini membawa manfaat bagi pembacanya.

Oh iya, jangan lupa bahwa ketika mendirikan bisnis startup berarti kita mendirikan sebuah bisnis. Bisnis tersebut menjadi tempat mata pencaharian banyak orang, dan bisnis tersebut harus diatur sedemikian rupa agar tetap bisa berdiri selama mungkin agar orang-orang yang bergantung pada bisnis tersebut bisa tetap memiliki mata pencaharian. Jadi jangan cuma fokus pada visi, valuasi, nilai funding, dsb.

--

--